Home > Serambi Hikmah > Zakat dan Masjid Sebagai Pengaman Sosial

Zakat dan Masjid Sebagai Pengaman Sosial

Persoalan kemiskinan tampaknya menjadi problematika yang terus menerus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Tingginya angka pengangguran serta melambungnya harga-harga barang kebutuhan pokok menjadi fenomena yang selalu melekat pada kehidupan rakyat banyak. Wajarlah jika kemudian rakyat banyak yang semakin menderita. Daya beli mereka terus menurun. Berdasarkan kajian Tim Indonesia Bangkit, upah riil petani pada tahun 2007 mengalami penurunan sekitar 0,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Demikian pula dengan upah riil buruh bangunan, pembantu rumah tangga, dan tukang potong rambut, mengalami penurunan masing-masing sebesar 2 persen, 0,5 persen, dan 2,5 persen. Masih dalam periode yang sama, upah riil buruh industri mengalami penurunan sebesar 1,2 persen. Menurunnya upah riil kelompok rakyat kecil tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tahun lalu sesungguhnya lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat menengah ke atas.
Demikian pula dengan kenaikan harga bahan pangan yang mendorong tingginya inflasi pada dua bulan pertama di tahun 2008, meski masih berada dalam kisaran ekspektasi pasar. Tingkat inflasi yang terjadi pada bulan Februari 2008 misalnya, adalah sebesar 0,65 persen, dimana 0,41 persen diantaranya merupakan sumbangan bahan pangan. Jika ditinjau dari year on year inflation, yaitu dari Februari 2007 hingga Februari 2008, maka inflasi di negeri ini mencapai angka 7,40 persen. Dengan keadaan tersebut, bisa dipastikan kelompok masyarakat dhuafa menjadi kelompok yang paling menderita.

Pemberdayaan Zakat
Pemerintah sesungguhnya telah berusaha untuk mengatasi kemiskinan dengan menciptakan berbagai macam program, seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT), Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) dan program raskin (beras miskin). Namun demikian, seringkali program tersebut berjalan tidak efektif di lapangan. Ada banyak penyebab terkait dengan hal tersebut, antara lain akibat inefisiensi birokrasi, penyelewengan dan penyimpangan hingga kelemahan database yang digunakan, sehingga di beberapa daerah seringkali terjadi “kesalahan” di dalam penyaluran bantuan-bantuan tersebut. Sampai-sampai Komisi IV DPR beberapa waktu lalu, melalui salah seorang wakil ketuanya, Syarfi Hutauruk, meminta agar pada tahun ini tidak ada lagi perbedaan data statistik mengenai jumlah RTM (Rumah Tangga Miskin), terutama antara yang dikeluarkan oleh BPS dan BKKBN sebagaimana yang terjadi pada tahun lalu.

Untuk itu, penulis melihat perlunya memunculkan alternatif-alternatif lain yang dapat membantu upaya pengentasan kemiskinan, yaitu melalui pemanfaatan instrumen zakat, infak dan sedekah (ZIS) secara optimal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam al-Asbahani dari Imam at-Thabrani, dalam kitab Al-Ausath dan Al-Shaghir, Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT telah mewajibkan atas hartawan muslim suatu kewajiban zakat yang dapat menanggulangi kemiskinan. Tidaklah mungkin terjadi seorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab kebakhilan yang ada pada hartawan muslim. Ingatlah, Allah SWT akan melakukan perhitungan yang teliti dan meminta pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”.

Hadits tersebut secara eksplisit menegaskan posisi zakat sebagai instrumen pengaman sosial, yang bertugas untuk menjembatani transfer kekayaan dari kelompok kaya kepada kelompok miskin. Hadits tersebut juga mengingatkan akan besarnya kontribusi perilaku bakhil dan kikir terhadap kemiskinan. Memang agak sulit mengukurnya, tetapi bagi penulis, besarnya gap antara potensi dan realisasi penghimpunan zakat, dimana zakat yang terhimpun baru pada kisaran 20 persen dari potensinya, bisa dijadikan sebagai salah satu indikator makro bahwa perilaku bakhil dan kikir masih menghinggapi sebagian dari umat Islam.

Persoalannya sekarang, bagaimana strategi dan pendekatan yang harus digunakan agar zakat dapat berperan secara efektif dalam upaya pengentasan kemiskinan. Ada banyak hal yang dapat dilakukan. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan institusi masjid sebagai ujung tombak pemberdayaan zakat.

Peran Masjid
Perlu disadari bahwa di antara ciri utama tegaknya peradaban dan kejayaan Islam di masa lalu adalah berfungsinya masjid, di samping sebagai pusat ibadah ritual, juga sebagai pusat aktivitas umat dalam semua bidang, terutama sosial dan ekonomi. Cita-cita tegaknya peradaban zakat, yang selama ini sering didengungkan oleh para tokoh zakat nasional, hanya akan mungkin terwujud manakala masjid terlibat secara aktif dan integratif dalam proses pembangunan zakat di tanah air (perhatikan QS. At-Taubah: 18).

Ada banyak keuntungan jika masjid dilibatkan dalam penghimpunan maupun pendayagunaan zakat. Pertama, dari sisi jumlah, masjid merupakan institusi umat yang paling banyak jumlahnya dan tersebar di seluruh wilayah nusantara. Berdasarkan data Depag, jumlah masjid saat ini mencapai angka di atas 179 ribu buah. Jaringan yang luas ini merupakan sumber kekuatan yang luar biasa. Kedua, secara umum masjid merupakan instrumen yang masih dipercaya oleh masyarakat. Para pengurus masjid pada umumnya merupakan individu-individu yang dipercaya masyarakat. Tingginya kepercayaan ini merupakan modal yang sangat besar bagi pembangunan zakat ke depan. Ketiga, secara psikologis dan sosiologis, masjid merupakan institusi yang memiliki hubungan paling dekat dengan umat, bila dibandingkan dengan institusi-institusi lainnya.

Oleh karena itu, penulis memandang perlunya melibatkan masjid pada skala yang lebih luas dalam optimalisasi penghimpunan dan pendayagunaan zakat. Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama, sosialisasi dan konsolidasi secara terus menerus. Para pengurus masjid dan masyarakat harus terus menerus diberikan pemahaman yang tepat dan benar tentang urgensi peran masjid dalam mengentaskan kemiskinan. Kedua, perlu didirikannya UPZ-UPZ (Unit Pelayanan Zakat) di setiap masjid, sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam pengelolaan zakat. Di antara tugas pokok UPZ masjid ini adalah mendata potensi jamaah, potensi ekonomi masyarakat sekitar masjid, dan membuat peta kemiskinan masyarakat sekitar masjid secara tepat. Tujuannya agar dapat diketahui secara pasti berapa sesungguhnya jumlah faktual muzakki dan mustahik di tanah air. UPZ masjid ini nantinya dapat dikoordinasikan oleh BAZDA Kota/Kabupaten. Ketiga, perlu diperbanyak model-model pemberdayaan zakat oleh UPZ masjid. Saat ini BAZNAS dan BAZDA Kabupaten Sukabumi tengah mengembangkan model pemberdayaan zakat melalui UPZ masjid di kabupaten Sukabumi, yang diharapkan dapat menjadi contoh bagi masjid-masjid yang lain. Penulis yakin, melalui integrasi antara zakat dan masjid, insya Allah upaya pengentasan kemiskinan akan dapat terakselerasi dengan baik. Wallahu’alam.

Sumber: http://www.pkesinteraktif.com

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: